Powered By
widgetmate.com
Sponsored By
Digital Camera
Tampilkan postingan dengan label Finance News Worlds. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Finance News Worlds. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Februari 2009

Bill Gates: Ekonomi AS akan pulih setelah 10 tahun kedepan

Pendiri Microsoft yang juga jutawan asal Amerika Serikat, Bill Gates, memprediksi bahwa Amerika membutuhkan waktu 10 tahun untuk memperbaiki perekonomian dari terpaan badai krisis yang sedang terjadi.

“Pasar uang dan kondisi perekonomian yang berkembang sepanjang tahun ini tidak pernah terjadi sebelumnya,” demikian pernyataan Gates dalam tulisannya di surat tahunan pertama, seperti dikutip AFP, Selasa (27/1/2009).

“Saya berharap saat saya menulis pandangan saya dalam laporan yang sama pada dua tahun mendatang, saya bisa memandang bahwa ini merupakan refleksi jangka pendek dan sudah terlewati,” tambahnya lagi.

Menurutnya, faktor inovasi teknologi dan sektor ilmiah dianggap bisa sebagai penggerak utama dalam proses pemulihan ekonomi Negeri Paman Sam. “Berbagai inovasi yang tengah diciptakan bisa membawa kemajuan nyata dalam memecahkan masalah besar, dan akan membantu memperbaiki dan menyegarkan kembali ekonomi dunia,” kata Gates

Milioner ini merasa terilhami untuk menulis surat tahunan bagi Yayasan miliknya dan istrinya, Bill and Melinda Fondation, yang berdiri pada 1994.

“Dalam waktu dekat, Warren Buffet akan membuat keajaiban,” tuturnya, sambil menambahkan orang kaya papan atas di Amerika ini akan memberikan hibah bagi yayasannya.

Yayasan Gates berperan dalam memberantas kematian masa kecil, memperbaiki pertanian global dan pendidikan di Amerika Serikat, dan perkelahian polio, AIDS dan malaria.

“Saya cukup mujur mengumpulkan kekayaan yang masuk ke yayasan karena saya mendapat pendidikan luar biasa dan dilahirkan di Amerika Serikat, di mana inovasi dan pengambilan risiko dihargai,” kata Gates pada bagian suratnya tentang pendidikan di Amerika Serikat. (Okezone)

Senin, 22 September 2008

Kronologi Krisis Finansial AS

Washington - Amerika Serikat (AS) mencatat sebuah krisis finansial terburuk. Bank-bank investasi besar bertumbangan, indeks saham terpuruk hingga level terendahnya.

Krisis itu berakhir pada sebuah upaya penyelamatan raksasa bernilai hingga US$ 700 miliar atau sekitar Rp 6.450 triliun. Sebuah harga yang sangat mahal dari sebuah krisis.

Pemerintahan presiden AS George Walker Bush meminta Kongres bergerak cepat menyetujui rencana tersebut untuk mengatasi krisis finansial terburuk setelah 'Great Depression'. Tanpa persetujuan yang cepat itu, perekonomian bisa kolaps.

"Kami perlu ini berjalan lancar dan cepat," kata Menkeu AS Henry Paulson.

Pemimpin partai Demokrat meminta agar rencana untuk membeli aset-aset bermasalah dari lembaga finansial itu harus juga membantu masyarakat AS yang terkena dampak paling parah dari merosotnya sektor perumahan di AS.

"Ada banyak masyarakat yang memerlukan pertolongan. Namun bantuan paling besar yang dapat kita berikan kepada masyarakat AS adalah menstabilkan sistem finansial kita sekarang ini," kata Paulson.

Inilah kronologi berbagai kejadian yang menyebabkan krisis finansial AS, seperti dikutip dari AFP, Senin (22/9/2008).

16 Maret:


Bank investasi Bear Stearn dijual murah hanya pada harga US$ 236 juta kepada JP Morgan Chase. Kesepakatan itu 'diotaki' oleh Federal Reserve.

7 September:


Departemen Keuangan AS mengambil alih raksasa pembiayaan perumahan AS, Freddie Mac dan Fannie Mae, sekaligus menjamin utang setiap institusi itu masing-masing hingga US4 100 miliar.

15 September:


  • Bank investasi Lehman Brothers mendaftarkan proteksi kebangkrutan, setelah pemerintah AS menolak untuk mem-bail out.
  • Bank investasi lain, Merrill Lynch akhirnya mencapai kesepakatan dengan Bank of America dalam sebuah rencana akuisisi bernilai US$ 50 miliar.
  • Lembaga pemeringkat menurunkan peringkat utang American International Group (AIG). Perusahaan asuransi terbesar dunia itu harga sahamnya anjlok hingga 60,8%, melanjutkan penurunan yang sudah terjadi sebelumnya.
  • Federal Reserve menyuntikkan US$ 70 miliar ke pasar.
  • Indeks Dow Jones anjlok hingga 4,42%. Indeks FTSE London merosot 3,92%, CAC Paris anjlok 3,78% dan DAX Frankfurt anjlok 2,74%.

19 September:


  • Pemerintah AS menyelamatkan AIG dengan menyuntikkan US$ 85 miliar, dengan imbalah 79,9% saham perusahaan asuransi itu.
  • Federal Reserve kembali menyuntikkan US$ 50 miliar ke pasar.

17 September:


Saham-saham kembali berjatuhan akibat ketidakpastian ekonomi. Indeks Dow Jones kembali anjlok 4,06%. Bapepam As melarang aksi short-selling di sejumlah saham sektor finansial.

18 September:


  • Federal Reserve dan bank-bank sentral dari berbagai dunia menyuntikkan US$ 300 miliar ke pasar kredit. Saham-saham kembali melonjak berkat kabar meluasnya bail out oleh pemerintah AS, indeks Dow Jones meloncat 3,86%.
  • Setelah penutupan pasar, Menkeu AS Henry Paulson meminta persetujuan dari kongres untuk membeli aset-aset bermasalah yang berhubungan dengan mortgage dari para lembaga institusi.

19 September:

Pemerintah AS mengumumkan rencana penyelamatan krisis finansial senilai US$ 700 miliar. The Fed menyuntikkan lagi US$ 20 miliar ke pasar kredit. Saham-saham menguat, dengan indeks Dow Jones naik hingga 3,35%.
www.detikfinance.com

Krisis Global, AS Inginkan Intervensi Luas

WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) menginginkan intervensi lebih luas guna mengatasi krisis keuangan global. AS secara agresif akan menekan negara lain untuk meniru langkah mereka dalam menjamin institusi keuangan.

Menteri Keuangan AS Henry Paulson mengatakan, proposal Depkeu AS kepada Kongres untuk meminta pengesahan belanja sebesar USD700 miliar (sekitar Rp6.600 triliun) guna membeli aset terkait kredit perumahan dapat menjadi cetak biru negara lain.

"Kami memiliki sistem keuangan global dan kita bicara dengan sangat agresif dengan negara lain di seluruh dunia dan mendorong mereka melakukan hal yang sama. Saya yakin beberapa dari mereka akan mengikuti langkah kami," ujar Paulson di Washington.

Menteri Keuangan itu tidak memberikan keterangan lebih lanjut, tapi beberapa pejabat keuangan AS tengah melobi rekan-rekan mereka di Eropa dan Jepang selama 10 hari terakhir untuk mencegah jatuhnya sistem keuangan global. "Saat ini kita bekerja sama dengan partner internasional," ungkap Paulson.

Seperti diberitakan, pemerintahan Presiden George W Bush mengajukan rencana anggaran jaminan sebesar USD700 miliar untuk membeli sekuritas terkait kredit perumahan dalam usaha cepat menenangkan pasar keuangan. Draf rencana itu telah dikirimkan ke anggota Kongres pada Jumat (19/9) malam lalu.

Paulson menambahkan, bank asing masuk dalam rencana jaminan USD700 miliar yang disiapkan pemerintah." Ya,dan mereka harus bisa karena jika sebuah institusi finansial memiliki operasi bisnis di AS dan mempekerjakan orang di AS,kalau mereka terhambat dengan aset tidak cair, mereka memiliki dampak yang sama pada orang Amerika sebagaimana institusi lain,"lanjut Paulson.

Pakar dan pelaku ekonomi bersilang pendapat mengenai langkah pemerintah ini. Intervensi pemerintah atas kredit macet swasta ini dianggap mengubah dogma lama sikap Pemerintah AS atas penanganan kredit macet. Satu per satu perusahaan swasta berusaha diselamatkan, namun hal itu menimbulkan pertanyaan, berapa banyak lagi yang harus diselamatkan.

Alan Blinder,ekonom Universitas Princeton mengatakan, dengan menanggung begitu besar kredit macet, pemerintah juga dihadapkan pada kondisi anggaran yang mengalami defisit begitu besar. Para pembayar pajak alias para pekerja AS yang menjadi aset akhir ekonomi menjadi taruhannya.

"Utang tersebut akan jatuh tempo dan jumlah sangat besar," kata Blinder, seperti dikutip New York Timeskemarin. Nouriel Roubini, ekonom dari Stern School of Business di New York University mengatakan, resesi ini akan berjalan 18 bulan ke depan, sebelum hasil intervensi pemerintah bisa terlihat jelas.Jika rencana pemerintah ini berhasil, katanya,sasaran utama adalah mengatasi inti krisis ini, yaitu kredit rumah yang macet dan anjloknya harga rumah.

Isu Panas
Sementara itu, momen krisis ekonomi yang sedang melanda AS terus menjadi isu panas bagi para kandidat presiden, yaitu Senator Barack Obama dari Partai Demokrat dan Senator John McCain dari Partai Republik. Baik Obama maupun Mc- Cain menegaskan akan mempelajari proposal permintaan pemerintah kepada Kongres untuk menyetujui penggelontoran dana USD700miliar .

Juru bicara Obama, Jen Psaki, mengatakan, Demokrat ingin bekerja sama dengan pemerintahan Presiden George W Bush dan Kongres untukmenjaminagarrencana itu juga mengurangi beban yang ditanggung pekerja, bukan hanya bos dan pemegang saham perusahaan. Obama menginginkan paket yang diajukan pemerintah itu menjadi bagian dari semua rencana. Bukan hanya untuk Wall Street, tapi juga melindungi wajib pajak dan membantu pemilik rumah.

Sementara itu, McCain menyatakan penanganan krisis finansial ini membutuhkan pemimpin dan tindakan untuk memperbaiki fondasi pasar finansial dan mengurangi beban warga Amerika kelas menengah. Berjanji mengkaji proposal itu, McCain menggembargemborkan rencananya untuk sebuah perserikatan "Institusi Hipotek dan Finansial".

"Serikat seperti itu akan secara proaktif menyelesaikan masalah institusi finansial, menegakkan disiplin manajemen dan saham, serta meminimalkan beban wajib pajak," ujarnya. Di sisi lain, krisis ekonomi di AS belakangan telah mengatrol popularitas Obama.

Dipicu ketidakpuasan terhadap cara Republikan menangani perekonomian di saat terjadi krisis finansial, Obama mendapatkan angka tertinggi dalam pollingharian Gallup dengan 50 persen suara, sedangkan McCain hanya memperoleh 44 persen dukungan.

McCain memperoleh peningkatan dukungan pascakonvensi setelah menggandeng Gubernur Alaska Sarah Palin sebagai calon wakil presiden.Walau begitu, dukungan itu semakin berkurang setelah terjadi krisis ekonomi. Sebuah polling negara bagian Florida di Sun Sentinel dan Florida Times-Union menunjukkan, Obama menang tipis atas McCain dengan perolehan 46 persen melawan 45 persen.

"Ini kompetitif, tidak diragukan lagi dan jelas sekali bahwa ekonomi adalah isu pentingnya. Apa yang terjadi di Wall Street pekan ini membantu Obama di Florida," ujar Del Ali of Research 2000, perusahaan independen yang melakukan survei.
www.okezone.com